Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.
***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
JADWAL SHOLAT SEMARANG
Rabu, 05 Agustus 2009
CINTA LELAKI BIASA
Label: sastra
Diposting oleh permana's blog di 12.58 0 komentar
Sabtu, 04 Juli 2009
PERGILAH KAU KARENA CINTAKU2
Bulan ramadhan hijriyah..aku diajak buka bersama dirumahnya bersama puluhan anak yatim..aku terkejut waktu tau dia adalah ketua sekaligus pendiri yayasan "bina yatima" sebuah yayasan yang ia rintis bersama teman-teman SMPnya 3 tahun lalu yang konsisten membina anak-anak yatim disekitar rumahnya
Ceritanya cukup membuatku tersentak. Bagaimana bisa diusia semuda itu dia sudah berfikir begitu mendalam, dan langsung meluapkan fikirannya dalam tindak nyata. Aku terharu waktu ia bilang "ada kebahagian tersendiri ndy waktu liat senyuman anak yatim yang kita santunin,,kalo kamu mau,,setelah jadi dokter nanti kamu bisa jadi donatur yayasanku"..katanya Aku seperti ditampar hingga tersungkur. Se-egois inikah diriku selama ini, sampai tak pernah memikirkan orang disekitarku,,bahkan tak pernah terbersit dalam fikiranku untuk berbagi kebahagiaanku bersama mereka.
Aku merasa sangaaaaaaat malu. meski dalam hati, aku merasa lebih hebat darinya...dengan motor yang kukendarai yang waktu itu hanya dimiliki 2 orang dikampusku. Memakai helm seharga biaya kuliah sa€€tu semester. Dengan penampilan yang congkak kuberjalan melangkah menuju teras rumahnya yang begitu sederhana.dipelosok desa
Tapi ternyata dibalik semua itu, ia memiliki banyak kelebihan daripada yang aku miliki saat itu. Bahkan sebenarnya ia mampu untuk punya kehidupan 3 kali lipat lebih mewah dariku. Tapi ia tidak lakukan, atas nama kesederhanaan..
Selama 2 hari aku menginap dirumahnya. tepatnya dimasjid depan rumahnya, ditemani pak Khodim, pembantu rumah tangganya yang setia. Saat sahur, ia menyuruh salah satu pegawainya untuk memanggilku makan sahur. Kita sahur bareng keluarganya..sehabis sahur kita ngobrol cuma berdua diruang tamunya. Semakin aku tau siapa sebenarnya bidadari yang aku kenal Supel dan sederhana ini. Semakin ku menyelami dalamnya samudra hatinya dan semakin banyak mutiara yang indah yang menawanku
Pagi hari yang sedikit berawan setelah 2 hari kumenginap disana aku bersiap pulang kesemarang dia menemaniku meringkas bawaanku, dan membawakan sedikit oleh-oleh untukku “ Zis, ini dari abah. Nanti buka puasa dimakan ya tapi kamu angetin dulu biar lebih enak” ucapnya sambil memberikan Lunch box warna pink yang sering dia bawa kekampus “ wah abah repot repot, tapi gapapa ding, lumayan bisa irit pengeluaran hehe..” “ Iya makanya aku kasihan ma kamu, tak taro di tasmu ya” Nina mengambil tas ranselku yang aku letakkan di dekatnya. Dengan telaten ia rapikan seisi tasku dan menyimpan luch box kesayangannya di kantong depan ranselku.
Kami berdua beranjak ke teras rumahnya aku ngobrol sambil memanaskan motor. “Zis, ati-ati lo dijalan. Ga sah ngebut-ngebut, kaya Valentine Rossi aja “ ucapnya sembari merajuk, “iya tuan putri yang cantik“ candaku sambil menyentil ujung jilbabnya. Nina melepas kepergianku dengan tatapan khawatir. " kalo cape istirahat aja, jauh lo semarang-pati.."aku tersenyum menghilangkan kegundahannya, meyakinkan ku akan baik2 saja “ salam buat abah sama ibu ya ”, “ iya nanti aku sampein” balasnya sambil melambaikan tangan padaku. Selama dua jam jam perjalanan tak terasa penuh dengan lamunan tentangnya..aku lupa kalau aku lagi puasa..astaghfirullahal'azhim
Sesampainya disemarang jam 8 pagi aku ditelfon mamaku kalo mama n keluarga lagi meluncur kebrebes kerumah eyang, kira2 6 jam lagi sampai. Mama minta aku kebrebes hari ini juga, padahal brebes semarang perlu waktu 4 jam..aku cuma punya waktu 2jam istirahat sekaligus bersiap2. Aku sms Nina bilang aku mau kebrebes sekarang. Tak kusangka ia malah menelfonku. Sepertinya ia benar2 khawatir dengan keadaanku. " Zis, semalam kamu tidur larut, trus habis sahur kamu ga tidur lagi..kamu baru aja nyampe semarang, masa langsung kebrebes??..kasian badanmu to. "..aku sungguh2 mencoba meyakinkan Ina yang memaksaku istirahat dulu, kalau aku memang lagi fit. aku bilang makasih ma dia,, iseng iseng aku menggodanya dengan sun jauh lewat hpku. aku dapat melihat senyum merona dibalik suaranya "ya udah,,tapi ati2 ya,,tetep kabari aku lo kalo istirahat dijalan"..
selama perjalanan tiga kali aku sms Ina..sekedar bilang aku lagi dimana dan meminta dia terus mendoakan perjalananku. Sesampainya diBrebes.ku isi pulsa hpku yang sudah mepet. Biar nanti bisa Sms-an sama Nina. Suatu malam aku sangat berdebar mendapat sms dari Ina. "Zis, aku mo curhat ni, jangan diketawain ya.. mmm sobatmu ni lagi jatuh cinta ni" jantungku berdegup cepat entah kenapa, aku seperti merasa dia sedang jatuh cinta padaku.. ahh anehnya, aku kok kege’eran, langsung ku balas smsnya "kenapa Nin??!!!kamu jatuh cinta...hahahahhahaha.kok bisa ya???apes bener tu cowok bisa kamu taksir..", " aaahh . jahat kamu Zis..temen lagi resah gelisah gini malah kamu godain..tapi serius Zis........"
Akhirnya ga terasa pulsa tinggal 10ribu.. Nina emang ga bilang siapa cowok yang dia suka..dia cuma minta kiat pendekatan ke aku.. karena dia tau mantan pacarku ada Sembilan. Jadi untuk urusan ini mungkin dia fikir akulah orang yang tepat.
Tapi jujur dalam hatiku aku berharap banyak, kalo pria yang dia maksud tu aku. Meski ada perasaan gundah juga, bagaimana kalo bukan aku. Aku seperti orang bingung malam itu. Aku tak mengerti perasaan yang aku alami. Aku mencoba menyelami palung terdalam dihatiku hatiku, ku coba mendengar bisikannya yang terhalus. Dan aku menemukan..ternyata memang ada bulir –bulir cinta yang mulai berkecambah. Entah kapan aku mulai mencintainya. Aku seperti tersihir oleh pesonanya. Pesona gadis berJilbab yang baru aku temui selama petiualangan cintaku. Tapi aku berkaca lagi, apa pantas seorang yang baru saja mengenal agamanya berfikir untuk jatuh cinta pada gadis berjilbab sepertinya. Apa pantas aku berharap cinta dari sosok seorang Nina, Gadis yang mempunyai kelembutan hati, ketulusan jiwah, kejernihan batinku, sedang aku berperangai kasar da egois.
Ku sungguh berfikir..bagaimana kalo memang dia sudah menambatkan hatinya pada pria lain..tapi mengapa dia begitu perhatian padaku..dan banyak sikap yang ia tunjukkan seakan iapun memendam cintanya untukku. malam itu jadi malam yang panjang untukku. Ku menatap rembulan di teras rumahku, bulan sabit yang seindah senyumanannya. Gemerlap bintang melukiskan kemilau wajahnya. Tak terasa air mata ini mengalir. Pertama kalinya aku merasakan cinta seperti ini. Kupandangi lagi smsnya tadi. Kulihat dompetku, disana ada fotoku, dia dan Agus, dan beberapa temanku saat pesta kelinci beberapa waktu lalu, aku menangis sambil menyentuh gambarnya dalam foto itu. Entahapa yang membuatku menangis.
Terkadang cinta membuat orang menangis tanpa sebab yang dia pun tau, seorang ibu menangis sesaat setelah melahirkan buah hatinya, Seorang anak menangis ketika bersimpuh dikaki ibundanya di hari raya, Seorang kekasih menangis dikala rindu pada kekasihnya. Tak ada yang bisa bercerita tentang tangisannya.
Label: sastra
Diposting oleh permana's blog di 07.01 0 komentar
Kamis, 25 Juni 2009
PERGILAH KAU KARENA CINTAKU
Di depan sebuah rumah kontrakan yang tak begitu megah tapi cukup nyaman, saat itulah pertama kali aku berkenalan dengannya, aku diminta temanku meminjam catatan padanya, Nina Fajrina alamatnya di jl Padi X no 297. aku belum pernah mengenalnya bahkan melihatnya. dia satu angkatan denganku. kami baru 1 minggu menjadi mahasiswa di FK Universitas Islam Sunan Gunung Jati Semarang. TAk begitu lama aku menunggu, seorang gadis berjilbab agak besar berwarna biru laut menghampiriku. Sesaat jantung ini berkontraksi lebih cepat. bahkan sampai saat inipun darah ini serasa berdesir lebih cepat saat aku mengingatnya. akupun tak tahu mengapa...
tak ada yang istimewa darinya hanya, tutur katanya yang halus ia memotong obrolan kita kalau waktu solat sudah hampir berakhir sedang ia tau kau belum menunaikan kewajibanku yang satu itu, laksana angin kutub utara yang berhembus di gersangnya himalaya.Dulu aku sering mengabaikan solat..bahkan sering solat dengan terburu2..
Suatu hari ia berkata,, "Zis.kamu apa ga merasa bersyukur,,kamu tampan,pintar,,orang tuamu berada,perhatian padamu,motormu siap kau bawa dengan kecepatan berapapun hingga kamu selalu menepati janjimu dengan siapapun,,kau bisa kuliah disini dengan biaya yang lebih rendah dari semua teman kosmu karena kecerdasanmu,meskipun kamu ga minat..tapi kamu berhasil menyingkirkan orang lain yang mungkin berusaha lebih giat dari kamu dan lebih menginginkan kuliah disini...kamu tau kan siapa yang memberikan itu semua??"
"Allah kan,,aku tau kok?"jawabku perlahan tapi masih kusandang selandang kesombongan..
"iya...benar Zis, andai semua yang kusebutkan tadi besok tidak lagi kau miliki..tapi kau bisa menebusnya pada seseorang ..apa yang akan kamu lakukan untuk membayar semua yang pernah kau miliki untuk kau miliki lagi...???ucapnya dengan tatapan yang teduh
"aku aku akan serahkan semua hidupku untuk jadi pembantunya"ucapku serius dengan sedikit terbata dan aku menunggu apa yang selanjutnya diucapkannya..
dia tersenyum.."Zis, kamu ga perlu kok.karena yang kasih itu semua itu Allah..Alah ga sekejam itu ma kamu..kamu ga perlu serahkan seumur hidupmu..Allah cuma minta kamu sisihkan waktu 5 menit aja untuk kau menyapaNya dan berterima kasih padaNya"
mulai saat itulah aku sedikit membuka hatiku untuk agama yang kuanut selama ini aku mulai rajin menyapa Allah,,mengunjungi rumahNya,,sekedar untuk melepas lelahku dengan berwudhu kemudian bersandar di temboknya
dia mulai dengan lembut mengenalkan aku dengan islam. Ajari aku surat2 pendek yang dulu dengan fasih aku hafal tapi karena kesibukanku (sibuk main dan konkow bareng temen)..ia kenalkan aku dengan teman2 ROHIS kampusku.. dan saat itulah hidupku mulai bermakna.
bersambung.......
Label: sastra
Diposting oleh permana's blog di 17.03 0 komentar